Mazda-Indonesia.Com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Cairan Yang Dibutuhkan Mobil

 

Menyambung uraian mengenai cairan mobil yang dibahas di sini dua minggu lalu, empat jenis cairan lain adalah minyak rem, oli "power steering", air pembersih kaca, dan air aki.

Cairan-cairan berikut ini tak berhubungan langsung dengan kerja mesin. Meski demikian, lubang pengisian dan tabung penampung cairan-cairan ini berada di ruang mesin. Oleh sebab itu, setiap pemilik mobil harus rutin melakukan "ritual" membuka tutup mesin untuk mencek kondisi cairan-cairan ini.

 

Minyak rem

Minyak rem atau oli rem menjadi cairan paling penting setelah air radiator dan oli transmisi. Setelah mesin bekerja dengan pendinginan baik, dan mobil bergerak dengan pelumasan gigi-gigi transmisi yang memenuhi syarat, maka mobil membutuhkan peranti pengurang laju agar dapat berhenti atau berjalan dengan terkendali.

Minyak rem berfungsi sebagai cairan hidrolik yang meneruskan tekanan kaki pengemudi pada pedal rem ke kaliper rem pada empat roda mobil. Tanpa cairan ini, rem tak bekerja. Minyak rem dibutuhkan pada sistem rem cakram (discbrake). Namun, karena tak berhubungan langsung dengan mesin, orang biasanya meremehkan.

"Asal mobil masih bisa berhenti saat direm, orang malas mengecek kondisi minyak rem. Padahal, minyak rem ada umur pakainya," kata Dikwan Irawan, mekanik dari bengkel Ditech Injection, Bandung.

Fungsinya sebagai penerus daya tekan rem, membuat minyak rem harus terbuat dari bahan yang tak termampatkan dan tahan suhu tinggi. Umumnya minyak rem terbuat dari bahan glikol meski ada juga yang berbahan dasar silikon.

Glikol bersifat higroskopis alias menyerap air. Bila dibiarkan dalam waktu lama, minyak rem akan menyerap uap air dari udara di sekitar.

"Kalau kandungan air dalam minyak rem tinggi, dapat menyebabkan karat dalam sistem rem," ujar Tjahja Tandjung dari Pusat Oli Toda.

Bahaya lebih besar dari menumpuknya air adalah rem blong karena gejala "angin palsu" atau vapor lock. Vapor lock terjadi saat rem dipaksa bekerja keras, hingga timbul panas sangat tinggi dan mendidihkan kandungan air dalam minyak rem. Air yang mendidih berubah menjadi uap air yang berbentuk gas termampatkan.

Saat uap air ini terbentuk dalam sistem hidrolik, maka alih-alih menekan kaliper rem untuk mengurangi laju mobil, daya tekan pada sistem hidrolik akan habis untuk memampatkan gas ini. Meski pedal rem ditekan habis, rem tak akan berfungsi.

"Minyak rem harus dikuras setiap 10.000 kilometer atau sekitar setahun sekali, untuk membuang angin palsu itu. Setelah dikuras, ganti dengan oli rem baru," ucap Dikwan.

Oli "power steering"

Oli power steering dibutuhkan pada mobil yang menggunakan power steering (PS) sistem hidrolik. Selain PS sistem hidrolik, beberapa mobil berukuran kecil produksi terbaru memanfaatkan PS sistem elektrik yang digerakkan listrik.

PS membantu pergerakan sistem setir mobil hingga roda kemudi menjadi ringan. Pada sistem PS hidrolik, bantuan tenaga berupa gaya yang berasal dari putaran mesin dan diteruskan oli PS. Meski sama-sama berfungsi sebagai cairan hidrolik, spesifikasi dan karakter oli PS berbeda dengan oli rem, hingga tak bisa ditukar pakai.

Selain memakai oli khusus PS, sistem ini juga bisa diisi oli transmisi otomatis (automatic transmission fluid/ATF). Biasanya ATF dipakai untuk oli PS berspesifikasi Dexron II atau Dexron III.

"Baca label ATF-nya. Bila tertulis bisa digunakan untuk power steering, silakan pakai. Tetapi, sebaiknya tak dicampur dengan oli khusus PS biasa karena spesifikasinya sedikit berbeda," kata Tjahja.

Selalulah baca buku manual mobil untuk melihat spesifikasi oli PS yang dibutuhkan. Menurut Tjahja, beberapa pabrik mobil seperti Honda, mensyaratkan spesifikasi oli PS khusus yang berbeda dari mobil lain.

Oli power steering sebaiknya dikuras dan diganti setiap 40.000-50.000 km atau dua tahun sekali. Dikwan juga mengingatkan untuk mengecek ketinggian permukaan oli PS di tabung penampung. Permukaan cairan ini harus berada di antara batas maksimum dan minimum.

Isi oli melebihi batas maksimum bisa mengganggu sirkulasi oli, sedangkan di bawah batas minimum dapat merusak pompa oli. Jika volume oli terus berkurang, berarti ada kebocoran pada sistem hidrolis. Mobil harus segera dibawa ke bengkel khusus PS.

Air pembersih kaca

Cairan pembersih kaca penting karena berkaitan dengan daya pandang pengemudi. Kaca mobil yang kotor dapat mengganggu pandangan dan konsentrasi pengemudi.

Menurut Tjahja, tabung air pembersih kaca sebaiknya tak hanya diisi air, tetapi juga cairan aditif yang mengandung detergen. Fungsi aditif ini seperti sabun, membersihkan kotoran pada kaca.

"Air saja tak cukup untuk membersihkan kotoran yang mengandung minyak. Padahal, kaca mobil pasti kena kotoran berminyak dari asap knalpot," tuturnya.

Tjahja mengingatkan untuk tak memakai sembarang sabun. "Kandungan detergen pada sabun mandi atau sabun cuci sangat tinggi dan dapat menimbulkanflek di kaca atau cat mobil. Gunakan cairan khusus pembersih kaca," ujarnya.

Dalam keadaan darurat, cairan pembersih kaca dapat diganti sampo bayi yang detergennya paling ringan sehingga tak merusak cat.

Dikwan mengingatkan untuk mengecek isi cairan pembersih kaca dan menguras jika perlu. "Kotoran di sini dapat menyumbat saluran air. Pompa penyedot air bisa rusak bila air tak mengalir lancar," katanya.

Air aki

Air aki dibutuhkan mobil yang memakai aki berteknologi lama, yakni berisi cairan elektrolit. Sebagian besar mobil terbaru menggunakan aki yang disebut bebas perawatan (maintenance free/MF) atau populer dengan aki kering.

Pada aki model lama, larutan elektrolit aki menjaga agar tetap terjadi reaksi kimia antar-elemen listrik sehingga terjadi fungsi penyimpanan listrik. Bila larutan elektrolit berkurang, elemen listrik pada aki bisa rusak dan tak berfungsi.

Kalau aki tak berfungsi, listrik mobil yang dihasilkan alternator tak dapat tersimpan. Padahal, listrik diperlukan untuk menyalakan mesin. Oleh sebab itu, larutan elektrolit harus selalu berada di antara batas Upper Level dan Lower Level yang tertera di dinding aki. Bila kurang, tambahkan air aki.

Ada dua jenis air aki, yakni air murni (biasanya ditandai dengan tutup botol biru) dan larutan accuzuur. Accuzuur dibutuhkan saat pengoperasian awal aki baru. Larutan asam ini berbahaya bila terkena pakaian atau kulit dan dapat berakibat fatal kalau tertelan. Hati-hati saat membawa dan menuangnya.

Setelah aki beroperasi dan larutan itu berkurang, tambahkan air aki tutup biru yang berisi air murni (aquadestilata atau air suling).

Oleh Dahono Fitrianto
KOMPAS, Minggu, 15-10-2006. Halaman: 22

Iklan Bawah 1

Global An award-winning which enables you to build Web sites

Iklan Bawah 2

Global Hhave a certain amount of control over the way

Iklan Bawah 3

GlobalUltrices justo lorem ante pede sodales accumsan

Iklan Bawah 4

Global Plugins provide routines which are associated with it

Iklan Bawah 5

Template It provides the framework that brings together

Copyright © 2010 Mazda-Indonesia.Com. All Rights Reserved.