Mazda-Indonesia.Com

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Rem, Wajib Diselamatkan

Sudah tak terhitung kecelakaan lalu lintas akibat permasalahan pada rem kendaraan bermotor, atau kerap disebut "rem blong".

Namun, masih banyak pemakai mobil dan sepeda motor yang belum paham bagaimana cara kerja, memakai, dan merawat salah satu sarana paling vital untuk keselamatan penumpang itu.

Peslalom nasional yang juga Direktur Sentul Safety Driving, Didi Hardianto, mengatakan, perawatan rem dimulai dengan menggunakan rem secara benar. Pemakaian rem adalah bagian dari perilaku mengemudi.

"Masih banyak orang yang belum tahu bagaimana cara menggunakan rem dengan benar," tutur pembalap yang lebih dari 10 tahun menjadi instruktur mengemudi yang aman ini.

Salah satu kesalahan paling umum adalah menganggap rem sebagai alat penghenti laju kendaraan. Dengan menginjak pedal rem dalam-dalam pada kecepatan apa pun, orang mengira mobil akan segera berhenti dan bisa menghindari tabrakan dengan obyek di depannya.

Bahaya mengunci

Dalam keadaan panik karena mobil di depan mendadak berhenti atau ada orang tiba-tiba menyeberang, pengemudi biasanya mengerem mendadak. Reaksi ini, alih-alih menyelamatkan, justru mengundang risiko bahaya maut karena pengereman mendadak, roda dan ban akan mengunci atau berhenti berputar.

"Pada saat ban berhenti berputar, jangan diartikan mobil segera berhenti. Yang terjadi justru ban mobil akan slip atau skidding karena momentum gerak mobil. Dalam kondisi seperti itu, mobil tak bisa dikendalikan," kata Didi.

Untuk menghindari bahaya inilah ditemukan teknologi ABS (anti-lock braking system), sistem rem antimengunci, sehingga dalam kondisi darurat dan rem diinjak habis, roda tak mengunci dan masih berputar. Maka arah gerak mobil bisa dikendalikan.

"Apabila mobil belum dilengkapi ABS, ada trik mengerem khusus agar mobil bisa diperlambat tetapi masih bisa dikendalikan," katanya.

Trik dimaksud adalah menginjak penuh rem pada kesempatan pertama, lalu lepaskan rem sesaat, kemudian segera injak lagi, demikian berulang-ulang sampai laju kendaraan terkendali.

"Tujuannya, pada saat rem dilepas sesaat, roda masih berputar dan pengemudi bisa mengarahkan mobil dengan setir," kata Juara Nasional Slalom Test 2005.

Namun, yang lebih utama, menurut Didi, adalah menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan. Di jalan tol, patokan jarak antarkendaraan itu dipasang dalam bentuk rambu mata kucing pada pagar pembatas jalan.

Waspadai panas

Dikwan Irawan, mekanik yang sering ikut ajang balap drag race,menambahkan, untuk merawat sistem rem kendaraan, orang harus memahami cara kerja dan prinsip dasar yang melandasi cara kerja rem.

Sebagian besar orang menganggap daya perlambatan rem disebabkan adanya gesekan mekanis antara kampas rem dan bagian yang berputar, baik itu piringan dalam sistem disc brake maupun permukaan tromol pada sistem drum brake. Namun, yang melambatkan laju mobil bukanlah gesekan mekanis yang membuat gerakan piringan atau tromol menjadi tersendat.

Secara fisika, saat kampas rem menekan dan menggesek piringan rem, terjadi konversi energi. Energi gerak (kinetik) karena perputaran roda diubah menjadienergi panas sehingga berangsur-angsur energi kinetik menjadi semaki n kecil yang artinya perputaran roda makin lambat. Energi panas yang terbentuk kemudian dibuang ke lingkungan sekitar melalui aliran udara.

Maka sistem rem menjadi sensitif terhadap panas. Seluruh bahan yang digunakan dalam sistem rem, seperti kampas, piringan, hingga cairan oli rem, sudah diperhitungkan untuk menahan panas hingga suhu tertentu. Bila panas yang diterima sistem tersebut melebihi daya tahannya, rem dapat tak berfungsi dengan baik karena tak ada tempat lagi untuk menampung energi panas yang terbentuk.

Dalam kondisi ekstrem saat rem digunakan terus-menerus,misalnya di jalan menurun yang panjang, piringan dan kampas rem akan makin panas. Jika kondisi ini berlangsung terus, oli rem dapat mendidih dan terbentuk gas dalam pipa hidrolik.

Dalam bahasa awam, gas yang terbentuk ini disebut "angin palsu". Tekanan oli terhadap kaliper rem bisa jadi berkurang karena "angin palsu", dan kinerja rem menjadi anjlok.

Minyak rem DOT 3 (titik didih 205 derajat Celsius) dan DOT 4 (230 derajat Celsius) yang biasa digunakan terbuat dari bahan dasar senyawa glikol (polyalkylene glycol ether) yang bersifat menyerap air. Air di dalam sistem hidrolik rem akan sangat berbahaya karena air mendidih menjadi uap pada suhu 100 derajat Celsius. Sedangkan saat rem bekerja suhunya bisa melampaui angka tersebut. Ini dapat menimbulkan "angin palsu" berupa gas uap air dalam selang-selang hidrolik rem.

Dikwan menyarankan, rem diservis setiap enam bulan untuk membersihkan dan mengecek kondisi ketebalan kampas rem. Selain itu, minyak atau oli rem harus dikuras dan diganti minimal setahun sekali karena dalam kurun waktu itu kualitas oli menurun akibat menyerap air.

Mekanik asal Bandung ini juga mengingatkan agar Anda tidak terlambat mengganti kampas rem yang sudah tipis. Bila bahan kampas sudah habis, maka yang bergesekan dengan piringan rem adalah besi penahan kampas. Hal ini akan membuat piringan terkikis dan tak rata.

"Kalau sudah seperti itu, piringan harus dibubut supaya rata kembali. Tetapi pembubutan tak dianjurkan karena bisa merusak lapisan hardener di permukaan disc rem," kata Dikwan.

Oleh Dahono Fitrianto
KOMPAS, Minggu, 27-08-2006. Halaman: 22

Iklan Bawah 1

Global An award-winning which enables you to build Web sites

Iklan Bawah 2

Global Hhave a certain amount of control over the way

Iklan Bawah 3

GlobalUltrices justo lorem ante pede sodales accumsan

Iklan Bawah 4

Global Plugins provide routines which are associated with it

Iklan Bawah 5

Template It provides the framework that brings together

Copyright © 2010 Mazda-Indonesia.Com. All Rights Reserved.