Mazda-Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Perkumpulan Mazda

"Kekompakan dalam Kesempitan"

Berada dalam kondisi serba mepet dan sempit pastilah tak enak. Namun, justru dalam kondisi seperti itu biasanya muncul kreativitas dan kebersamaan untuk bertahan, keluar dari kesulitan bersama-sama.

Itulah gambaran interaksi dalam komunitas penggemar mobil Mazda. Meski tak ada lagi

dukungan dari agen tunggal pemegang merek (ATPM) yang bisa menjamin ketersediaan suku

cadang dan pelayanan bengkel resmi bagi mereka, anggota komunitas ini tetap bangga dan setia merawat tunggangannya masing-masing. Sebagian orang mengira Mazda adalah mobil yang rumit, rewel, suku cadang atau onderdilnya langka. Kalaupun ada, harganya mahal. Citra itu seolah- olah melekat pada merek tersebut sehingga harga jual kembali mobil Mazda anjlok dibandingkan dengan yang barunya.  "Saya beli Mazda karena pertimbangan harganya paling murah dibandingkan dengan jenis dan merek mobil lain yang sekelas," kata Martin, wiraswastawan, warga Cawang, Jakarta Timur.

Ketagihan

Namun, coba Anda ngobrol dengan para penggemar Mazda, maka gambaran itu akan berbeda 180 derajat. "Mazda mobil yang tidak pernah mengecewakan. Saya sudah empat kali ganti mobil, dan semua Mazda," ungkap Thalut Wassil (41), seorang fanatik Mazda sekaligus salah satu sesepuh komunitas ini. "Setelah merasakan sendiri menyetir Mazda, saya ketagihan. Fiturnya paling lengkap dibandingkan dengan mobil seumuran yang harganya jauh lebih mahal. Modelnya juga keren abis! Tarikannya sangat oke, saya sampai kena penyakit kaki berat sebelah. Kalau sudah nginjak gas, lupa angkat kaki, he-he-he," kata Martin (29) mengisahkan pengalaman mengendarai Mazda Lantis tahun 1996-nya.

Ada juga yang pertama kali mengenal Mazda secara kebetulan, seperti pengalaman Tonny

Wisnu (30) dengan Mazda Interplay. "Mobil itu sebenarnya mobil dinas bokap. Tetapi setelah ikutan nyoba, jadi demen banget sama Mazda. Enak diajak ngebut dan di tikungan mobilnya enggak ngebanting," tutur wartawan sebuah tabloid otomotif ini.

Bagaimanapun, citra telanjur melekat, dan sampai saat ini Mazda belum menjadi merek favorit mobil di Indonesia. Populasinya kalah jauh dibandingkan dengan mobil merek lain. Akibatnya, ketersediaan onderdil di pasaran pun relatif sedikit, terutama untuk suku cadang non-orisinal atau sering disebut onderdil KW. "Selain karena langka, onderdil Mazda harganya mahal karena jarang ada yang KW. Jadi harus beli yang orisinal," ungkap Tonny yang akrab dipanggil Toncil. Jumlah bengkel dan mekanik yang bisa menangani mobil Mazda juga sedikit. Hal ini makin diperparah saat pertengahan tahun lalu seluruh bengkel resmi Mazda tutup berkaitan dengan pergantian pemilik hak ATPM. "Kami bagaikan anak ayam kehilangan induk. Bengkel resmi, yang dulunya menjadi andalan kami kalau ada masalah, tidak ada lagi," tutur Riva Darwito (34), pemilik Mazda Cronos V6 2.5.

Senasib

Dalam kondisi seperti itu, bertemulah orang-orang senasib ini dalam sebuah komunitas. Mailing list (milis) This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it menjadi wadah pertama bertemunya para pengguna Mazda.

"Om Ario Seno pertama kali mendaftarkan milis ini tahun 2001. Posting-an awal didominasi

pertanyaan tentang bagaimana cara merawat dan memecahkan masalah yang sering dihadapi

dengan Mazda masing-masing," ujar Thalut, yang kini mengendarai Mazda Premacy tahun 2000. Di milis tersebut mereka saling berdiskusi dan tukar-menukar informasi, mulai dari di mana bisa membeli suku cadang, bengkel khusus Mazda, sampai konsultasi dan diskusi tentang problem spesifik mobil. Jumlah anggota milis makin bertambah, hingga saat ini mencapai sekitar 1.300 orang dari seluruh penjuru Indonesia. Rata-rata mereka bergabung karena membutuhkan informasi tentang masalah yang dihadapi mobil mereka.

"Saya dulu sempat bingung mencari info tentang Mazda, sampai saya membaca di sebuah

tabloid otomotif tentang milis ini dan langsung bergabung," kata Gusrizal (41), warga Sangatta, Kalimantan Timur, yang merawat Mazda 626 GLX tahun 1986.

Selain di ajang milis, para penggemar Mazda juga membentuk klub otomotif, Indonesia Mazda Auto Club (IMAC), dan membangun situs internet www.mazda-indonesia.com. Seluruh anggota IMAC yang berjumlah sekitar 250 orang bermula dari milis mazda-indonesia dan berasal dari berbagai kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Bandar Lampung. "Untuk milis sifatnya sangat terbuka, bahkan yang tidak punya Mazda juga boleh gabung. Kalau IMAC, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, seperti memiliki mobil Mazda dan membayar uang pangkal. Tetapi fasilitas yang didapat juga lebih banyak dari sekadar menjadi anggota

milis," ungkap Riva Darwito, Ketua Umum IMAC periode 2006-2009. Fasilitas yang didapat sebagai anggota IMAC, lanjut Riva, antara lain diskon di beberapa toko suku cadang dan bengkel langganan pengguna Mazda. "Selain juga ada berbagai kegiatan klub, mulai dari kumpul-kumpul sesama anggota dan

keluarga, workshop, tur ke luar kota, servis bareng, sampai ikut drag race," ujar pemilik Mazda Cronos 2.5 V6 ungu ini. Menurut Riva, keanggotaan IMAC terbuka bagi pemilik Mazda tipe apa pun. Saat ini, hampir semua tipe Mazda yang beredar di Indonesia menjadi anggota klub tersebut, mulai dari Mazda B600 buatan tahun 1960-an (lebih populer disebut Mazda Kotak) sampai Mazda Premacy tahun 2002.

Saling tolong

Kekompakan mereka tak hanya saat berdiskusi di milis atau ketika temu darat, tetapi juga saat salah satu anggota terkena musibah atau kesulitan di tengah jalan. Pernah salah satu anggota milis yang belum menjadi anggota IMAC mogok di tengah jalan pada malam hari di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Begitu kabar tersebar, setidaknya empat anggota IMAC dengan mobil masing-masing berdatangan memberikan bantuan hingga pukul 04.00.

"Padahal rumahnya jauh-jauh. Bahkan ada yang sudah santai di rumah, langsung berangkat

menuju tempat kejadian untuk membantu menarik mobil mogok ke tempat salah satu anggota

yang paling dekat," tutur Riva, yang malam itu menjadi salah satu regu penolong.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman seperti itu, komunitas Mazda ini kemudian membentuk

semacam jaringan pertolongan darurat di seputar Jabodetabek. Jaringan itu dibentuk secara

sukarela oleh mereka sendiri dengan mendaftarkan nama, nomor telepon seluler, alamat, dan

radius lokasi yang bisa dijangkau dari rumah masing-masing. "Kami ini senasib sepenanggungan. Siapa lagi yang bisa kami andalkan kecuali satu sama lain?" ucap Tonny.

Panggilan Akrab untuk Mobil dan Pemiliknya

Komunitas Mazda di Indonesia pertama kali digagas Ario Seno dan Benjamin FF. Tahun 2001

mereka membuat milis This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

"Awalnya kami berdiskusi di milis. Tetapi diskusi saja lama-lama tidak cukup, jadi akhirnya kami kopi darat. Pertemuan pertama dilakukan di kantor Om Thalut di JCC," ujar Ario.

Salah satu topik diskusi yang mendasari digelarnya pertemuan pertama itu adalah bagaimana

membersihkan bagian throttle body mobil dengan menggunakan cairan pembersih karburator.

Dengan bertemu langsung, topik diskusi bisa langsung dipraktikkan. Hingga kini, setiap ada acara pertemuan, salah satu kegiatan yang paling menarik adalah berkumpul di depan mesin mobil salah satu anggota. Mereka kemudian berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang masalah yang dihadapi anggota tersebut. Tak jarang diundang pula narasumber mekanik yang berpengalaman menangani Mazda. Keunikan lain para anggota milis dan IMAC adalah tradisi untuk memanggil satu sama lain dengan panggilan "om". "Om adalah panggilan universal yang cukup akrab, tetapi juga mengandung penghormatan.

Komunikasi antar-anggota milis jadi terjalin lancar meski beda usia, beda status sosial, dan beda pengalaman. Kami semua sejajar dan kebersamaan adalah kata kuncinya," ungkap Riva

Darwito, Ketua IMAC. Selain itu, para anggota juga memberi nama kesayangan untuk mobil-mobilnya. Biasanya nama sebutan ini diambil dari tipe atau warna mobil. Pemilik Mazda Interplay warna biru ada yang memberi nama mobilnya Inter Biru atau Playblue. Pemilik Mazda Cronos yang sudah dimodifikasi memberi nama Monos, singkatan dari Monster Cronos. Namun, ada juga nama mobil yang tak berhubungan langsung dengan tipe maupun warna mobil. Seperti Riva, Mazda Cronos-nya dikenal dengan sebutan Air Force One atau disingkat AF1. Sementara anggota lain memberi nama berdasarkan dua huruf terakhir pelat nomornya. Eka SN, misalnya, menyebut Mazda Vantrend warna hijaunya dengan panggilan Si BG, dan Andris menjuluki Mazda Vantrend birunya dengan Si JK.

(DHF)

 

Iklan Bawah 1

Global An award-winning which enables you to build Web sites

Iklan Bawah 2

Global Hhave a certain amount of control over the way

Iklan Bawah 3

GlobalUltrices justo lorem ante pede sodales accumsan

Iklan Bawah 4

Global Plugins provide routines which are associated with it

Iklan Bawah 5

Template It provides the framework that brings together

Copyright © 2010 Mazda-Indonesia.Com. All Rights Reserved.